Tampilkan postingan dengan label artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Desember 2007

Umar bin Khattab

Umar bin Khattab (581 - November 644) (bahasa Arab: عمر بن الخطاب) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad yang juga menjadi khalifah kedua (634-644) dari empat Khalifah Ar-Rasyidin.

Latar belakang

Ia memiliki nama lengkap Umar bin Khattab bin Nafiel bin abdul Uzza, terlahir di Mekkah, dari Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy. Orangtuanya bernama Khaththab bin Nufail Al Mahzumi Al Quraisyi dan Hantamah binti Hasyim.

Keluarga Umar tergolong keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang jarang. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah.

Sebelum Islam, sebagaimana tradisi kaum jahiliyah mekkah saat itu, Umar mengubur putrinya hidup-hidup. Sebagaimana yang ia katakan sendiri, "Aku menangis ketika menggali kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku".

Mabuk-mabukan juga merupakan hal yang umum dikalangan kaum Quraish. Beberapa catatan mengatakan bahwa pada masa pra-Islam, Umar suka meminum anggur. Setelah menjadi muslim, ia tidak menyentuh alkohol sama sekali. Tetapi, setelah masuk Islam, belum diturunkan larangan meminum khamar (yang memabukkan) secara tegas. Sehingga, ada kisah yang konyol. Pada malam hari, Umar bermabuk-mabukkan sampai Subuh. Ketika waktu Subuh tiba, beliau pergi ke masjid dan ditunjuk sebagai imam. Ketika membaca surat Al-Kafirun, karena ayat 3 dan 5 bunyinya sama, setelah membaca ayat ke 5, beliau ulang lagi ke ayat 4 terus menerus. Akhirnya, Allah menurunkan larangan bermabuk-mabukkan yang tegas.

Memeluk Islam

Ketika ajakan memeluk Islam dideklarasikan oleh Nabi Muhammad SAW, Umar mengambil posisi untuk membela agama tradisional kaum Quraish (menyembah berhala). Pada saat itu Umar adalah salah seorang yang sangat keras dalam melawan pesan Islam dan sering melakukan penyiksaan terhadap pemeluknya.

Dikatakan bahwa pada suatu saat, Umar berketetapan untuk membunuh Muhammad SAW. Saat mencarinya, ia berpapasan dengan seorang muslim (Nu'aim bin Abdullah) yang kemudian memberi tahu bahwa saudara perempuannya juga telah memeluk Islam. Umar terkejut atas pemberitahuan itu dan pulang ke rumahnya.

Di rumah Umar menjumpai bahwa saudaranya sedang membaca ayat-ayat Al Qur'an (surat Thoha), ia menjadi marah akan hal tersebut dan memukul saudaranya. Ketika melihat saudaranya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba, dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat. Ia kemudian menjadi sangat terguncang oleh isi Al Qur'an tersebut dan kemudian langsung memeluk Islam pada hari itu juga.

Kehidupan di Madinah

Umar adalah salah seorang yang ikut pada peristiwa hijrah ke Yathrib (Madinah) pada tahun 622 Masehi. Ia ikut terlibat pada perang Badar, Uhud, Khaybar serta penyerangan ke Syria. Ia adalah salah seorang sahabat dekat Nabi Muhammad SAW

Pada tahun 625, putrinya (Hafsah) menikah dengan Nabi Muhammad.


Abu Ubaidah bin Zarrah, Panglima Besar Islam Pertama


Abu Ubaidah bin Zarrah, Panglima Besar Islam Pertama

Inilah panglimah besar petama yang perna di gelarkan kaum Muslimin kepadanya, sosok panglima seperti apakah ia sehinga mendapat penghormatan seperti itu????

Kita yang masa hidupnya demikian jauh masa hidup sang panglima besar patut menelusuri riwayat hidupnya untuk dapat memberikan penilaian serupa atau bahkan lebih tinggi dari itu dan untuk mengambil pelajaran berharga dari sikap dan wattaknya atau dari keberanian dan kecerdikanya, atau dari kepemimpinanaya.

Inilah simpul-simpul keberhasilanya:
Dialah yang dikatakan Uamr bin Khatthab saat ajalnya sudah dekat dengan ungkapan yang memuji keistimewaanya: "Seandainya Abu Ubaidah bin Jarrah masi hidup, tentu ia akan aku calaonkan sebagai pengantiku" dan seandainya Allah menanyakan hal itu akan aku jawab "Saya angkat kepercayaan Alllah dan Rasulullah".

Memang Umar menyatakan alasan yang demiikian itu , karena ia menyaksikan suatu adaegan ketika Rasulullah dengan tangan kananya memegang tokokh tadi sambil bersabda "sesungunya setiap uamat memiliki kepercayaan, dan sesungunya kepercayaan umat ini adlah Abu Ubaidah bin Jarrah".

Abu Ubaidah bin Jarrah dan Talhah bin Ubaidaillah adalah dua kunci atau pahlawan dari perang Uhud yang menjadi penyelamat Rasulullah mereka berdua disamping sahabat yanag lainya paling nekat membiarkan diri mereka terkena bacokan dari kaum Qurais demi melindungi Rasulullah.

Setelah perang mereda Abu Ubaidah melihat dua besi yang meneancap di kedua rahang Rasulullah, besi yang berasal dari pelindung muka Rasulullah itu karena hantaman dan bidikan anak pana musuh yang menjadikannya menghujam ke rahang kanan dan kiri Rasulullah, maka Abu Ubaidah memeinta izn untuk mencabut kedua besi tersebut dan ia mencabut dengan cara mengigit dengan giginya, karena begitukuat hantaman dari anak pana tersebut. Mka pada saat besi itu tercabut dari rahang kiri Rasulullah , terlepaslah gigi seri Abu Ubaidah dan sekali lagi ketika ia berhasil mencabut besi dari rahang kanan Rasulullah, maka terlepaslah gigi seri kana Abu Ubaidah. Kesimpulan inilah yang menjadikan kaum Muslimin mengangap keistimewaan Abu Ubidah.

Dalam ekpedisi Mutah' di Wilayah Syam, Nabi mengirimkan pasukan ke sana sebagai pendahuluan pembebasan rakyat dari kesewenag-wenangan penguasa Romawi. Dalam melepas pasukan Nabi brpesan yang intinya "Panglima pasukan ku percayakan kepada Zaid bin Haritsah, apabila ia gugur maka gantikanlah oleh Ja'far bin Abi Thalib dan apabila ia gugur maka gantikanlah dengan Abdulllah bin Ruwaha".

Ternyata ketiganya gugur dalam peperangan itu, maka Kholid bin Wli mengambil alih pimpinan dan membawa pasukan kembali ke Madinah. Dampak dari kekalahan itu tidak di biarkan berlalut-larut, Rasulullah segera menyusun pasukan baru yang dipimpin oleh Amru bin As'h dengan tujuan Dzatus Salasil (masi wilayah syam yang tidak jauh dari Mu'tha) namun Amru masi bimbang dengan kekuatan pasukanya, karena sadar atas jumlah kekuatan pasukan musuh maka dimintanya pasukan tambahan.

Nabi mensetujui dan dikirimnya pasukan baru dengan panglima Abu Ubidah bin Jarrah, di dalam paukan itu terdapat sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab sebagai bawahan Abu Ubaidah. Cobak apa tidak hebat??

Memang dan karenanya kaum Muslimin mengenal Abu Bakar dan Umar bin Khattab sebagai panglima besar dan Abu Ubaidah mampu mengemban tugas itu dengan sempurna. Maka pasukan Abu Ubaidah mulai bergerak dan mendahului serta mengobrak-abrik musuh sebelum mereka siap menyerang, dengan begitu mental musuh takut dan melemah yang mengira jumlah mereka banyak dan sebaliknya di bawah panduan panglima Abu Ubaidah mental para tentara Muslim menjadi bagkit dan bersemangat.

Ekpedisi Dzatus Tasalsil dinilai sebagai titik awal pembebasab Syam dari kedholiman Romawi dan titik awal runtuhnya Romawike dalamkekuasaan kaum Muslimin dan Abu Ubaidah adalah salah satu orang yang memberikan andil terpenting dalam misi ini.

Pada perang Yamruk, wilayah kekuasaan Romawijuga, pasukan muslim dipimpin oleh Kholid bin Walidmenghadapi lawanyang sangat besar jumlahnyadn peralatan perangnya. Pada saat itu Abu Ubaidah menjadi slah-satu pajurit disana. Kemudian kholifah Umar bin Khattab memutuskan untuk menganti Kholid dengan Abu Ubaidah. Kepada utusan itu disuruherahasiakan tentang pengantian panglima perang tersebut dan akhirnya Abu Ubaidah mendapat kepercayaan dari Kholifah Umar bin Khottab.

Dan akhirnya Abu Ubaidah meningal di wilayah Yordan dan ketika berita itu sampai pada Amirul Mukminin, beliau demikian sedih pelupuk matanya terpejam namun air matanya tidak terbendung mengalir dengan derasnya. Kemudian ucpannya "Seandainya aku bisa menikmati masa tua ku, maka yang kudambakan hanyalah rumah yang dipenuhi oleh para sahabat seperti Abu Ubaidah.